Monday, November 12, 2007

Iman itu Cerita Keajaiban...!

Semoga suguhan ini memberikan kita sebuah suplemen vitamin energi spiritual kita dalam merancang dan menyonsong sebuah kesuksesan dalam konteks lebih luas. Bermula dari sebuah pola pikir dan tergerak dalam sebuah ritme langkah-langkah teratur dan terarah untuk sebuah revolusi diri, bermula dari "ia", Iman. Bagaimana seorang M. Matta berujar dalam paparan bahasa tulisannya yang sangat khas, lugas, sederhana dan tentu sarat makna untuk menambah khasanah keilmuan kita. Berikut bagian dari Buku (“Menuju Cahaya” Recik-Recik Tarbiyah & Dakwah M. Anis Matta), yang sengaja saya bagi dengan teman-teman sekalian. Selamat membaca dalam sempitnya waktu yang teman semua miliki, semoga bermanfaat :

## Iman adalah sumber jiwa yang senantiasa memberikan kita kekuatan untuk bergerak menyemai kebaikan, kebenaran dan keindahan dalam zaman kehidupan, atau bergerak mencegah kejahatan, kebathilan dan kerusakan di permukaan bumi. Iman adalah gelora yang memberi inspirasi kepada pikiran-pikiran kita, maka lahirlah bashirah. Iman adalah cahaya yang menerangi dan melapangkan jiwa kita, maka lahirlah taqwa. Iman adalah bekal yang menjalar di seluruh bagian tubuh kita, maka lahirlah harakah. Iman menentramkan perasaan, menguatkan tekad, dan menggerakkan raga kita.

Iman merubah individu menjadi baik, dan kebaikan individu menjalar dalam kehidupan masyarakat, maka masyarakat menjadi erat dan dekat. Yang kaya di antara mereka menjadi dermawan, yang miskin menjaga Iffah (menjaga kehormatan dan harga diri), yang berkuasa menjadi adil, yang ulama menjadi taqwa, yang kuat menjadi penyayang, yang pintar menjadi rendah hati, yang bodoh menjadi pembelajar. Ibadah mereka menjadi sumber kesalehan dan kedamaian, ilmu pengetahuan menjadi sumber kekuatan dan kemudahan, kesenian menjadi sumber inspirasi dan semangat kehidupan.

Jika anda bertanya, mengapa Bilal dapat bertahan di bawah tekanan batu karang raksasa dengan terik matahari padang pasir yang membakar tubuh? Mengapa ia membunuh majikannya dalam perang Badar? Mengapa ia yang tadinya hanyalah seorang budak bisa berubah menjadi pembesar Islam? Lalu, mengapa Abu Bakar yang lembut menjadi sangat keras dan tegar saat Perang Riddah? Mengapa Umar Bin Khattab r.a. yang terhormat mau membawa gandum ke rumah seorang perempuan miskin di malam hari?

Mengapa Khalid Bin Walid lebih menyukai malam-malam dingin dalam Jihad fi Sabilillah daripada seorang perempuan cantik di malam pengantin? Mengapa Ali Bin Abu Thalib mau memakai selimut Rasulullah SAW dan tidur di kasur beliau saat dikepung menjelang hijrah, atau hadir dalam pengadilan saat beliau menjadi khalifah untuk diperkarakan dengan seorang warganya yang Yahudi? Mengapa pula Utsman bin Affan bersedia menginfakan semua hartanya, bahkan membiayai sebuah peperangan di masa Rasulullah SAW seorang diri? Jawaban semua itu ada disini :
Iman!

Sejarah Islam sepanjang lima belas abad ini mencatat, kaum muslimin meraih kemenangan-kemenangan dalam berbagai peperangan, menciptakan kemakmuran dan keadilan, mengembangkan berbagai macam ilmu pengetahuan dalam peradaban...Apa yang membuat mereka mencapai semua itu? Itulah saat dimana Iman mewarnai seluruh aspek kepribadian setiap individu muslim, dan mewarnai seluruh sektor kehidupan.

Tapi sejarah juga menorehkan luka. Pasukan Tartar membantai 80.000 orang kaum muslimin di baghdad, pasukan Salib menguasai Al-Quds selama 90 tahun, surga Andalusia hilang dari genggaman kaum muslimin dan direbut kembali oleh kaum Salib, Khalifah Utsmaniyah di Turki dihancurkan gerakan Zionisme internasional...Apa penyebab kehancuran ini? Itulah saat di mana iman hanya menjadi ucapan lisan dan tidak mempunyai hakikat dalam jiwa dan pikiran, tidak memberi vitalitas dan dinamika dalam kehidupan, lalu tenggelam dalam lumpur syahwat. Karena itulah penguasa mereka menjadi zhalim, orang kaya menjadi pelit, orang miskin menjadi pengkhianat, dan tentara mereka tidak punya nyali!

Abu Hasan Ali Al-Hasani An-Nadwi mengatakan : saat kejayaan adalah saat iman, dan saat keruntuhan adalah saat hilangnya iman. Sebagaimana iman menciptakan keajaiban di alam jiwa, seperti itu juga ia menulis cerita keajaiban di alam kenyataan. Gelora dalam jiwa pun menjelma menjadi prestasi-prestasi sejarah.

Allah Swt, berfirman : “ Dari apakah orang yang sudah mati kemudian kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-sekali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan...” (Q.S. Al-An’am :122)

Sekarang, ketika berbicara tentang proyek kebangkitan Islam, kita bertemu lagi dengan aksioma ini, saat kejayaan adalah saat iman. Iman Syahid Hasan Al-Banna mengatakan :
“Orang-orang yang bekerja atau mengajak untuk membangun umat, mendidik bangsa, memperjuangkan dan mewujudkan misi dan nilai-nilai dalam kehidupan, haruslah mempunyai kekuatan jiwa yang dahsyat yang mengejawantah dalam beberapa hal:

  • Tekad baja yang tak tersentuh oleh kelemahan.
  • Kesetiaan abadi yang tak terjamah oleh penyimpangan dan pengkhianatan.
  • Pengorbanan mahal yang tak terhalang oleh keserakahan atau kebakhilan.
  • Pengetahuan, keyakinan, dan penghargaan terhadap konsep perjuangan yang dapat menghindarkan dari kesalahan, penyimpangan, tawar-menawar atau tertipu dengan konsep yang lain.

Keempat hal tersebut sesungguhnya merupakan pekerjaan-pekerjaan khusus jiwa. Hanya di atas pilar-pilar dasar itu, dan hanya di atas kekuatan spiritual yang dahsyat itu sajalah umat yang sedang bangkit terdidik dan bangsa yang kokoh terbentuk. Siklus kehidupan akan terbarui kembali bagi mereka yang tak pernah memiliki kehidupan dalam waktu yang lama. Bangsa yang tidak memiliki sifat ini, atau setidak-tidaknya tidak dimiliki oleh para pemimpin dan pembaharunya, adalah bangsa yang miskin dan tersia-siakan, yang tak pernah meraih kebaikan atau mewujudkan cita-cita. Mereka hanya akan hidup dalam dunia mimpi-mimpi, bayang-bayang dan kesemuan.
sesungguhnya dugaan-dugaan itu sama sekali tidak berguna untuk (mendapatkan) kebenaran...(Q.S. Yunus:36). Inilah sunnah Allah bagi seluruh makhluk-Nya, dan tidak akan ada penggantinya. “sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang merubah diri-diri mereka sendiri..."(Q.S. Ar-Rad:11).

Demikianlah...Jelas sudah, apa yang dibutuhkan gerakan kebangkitan umat saat ini adalah mempertemukan umat dengan sumber energi spiritual mereka:
Iman!

Itulah persolan kita, bahwa ada banyak kabut yang menyelimuti pemahaman kita mengajarkan hakikat iman. Kesalahan atau kedangkalan dalam pemahaman tentang Iman, disertai kesalahan dalam menyusun dan mengajarkannya, adalah sebab utama yang membuat iman kita tidak bekerja semestinya. Ia tidak memberi inspirasi pada pikiran, tidak menerangi jiwa, tidak melahirkan tekad dan tidak juga menggerakkan raga kita untuk bekerja menyemai kebenaran, kebaikan dan keindahan dalam taman hidup kita. Karenanya tidak ada keajaiban di alam jiwa, dan tidak akan terangkai keajaiban itu dalam sejarah kita.##

Masihkah keraguan itu menggelayut manja dalam pikiran-pikiran kita akan ketidakberdayaan diri mencapai sebuah kesempurnaan Iman??? Pertanyaan ini juga yang senantiasa menjadi “pecut” diri saya untuk senantiasa menjadikan perubahan dimulai dari kita, dari saat ini. Tak akan ada langkah besar tanpa sebuah awalan dan langkah-langkah kecil sebagai permulaannya.
Wallahu’alam Bishowab!

Di Pagi Jakarta yang mendung euy...!

2 comments:

Amrie Hakim said...

Beberapa orang sahabat Nabi yang dikisahkan dalam artikel di atas memang luar biasa. Benar bahwa iman adalah faktor yang membuat mereka dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, sampai-sampai melampaui batas-batas manusia pada umumnya. Tapi, menurut saya ada faktor lainnya yang juga sangat menentukan kadar keimanan para sahabat Nabi yaitu kehadiran Rasulullah itu sendiri di tengah-tengah mereka. Jadi, akrabkanlah diri kita dengan perikehidupan beliau sehingga beliau menjadi tolok ukur baik-buruknya perkataan dan akhlak kita sehari-hari.

Anonymous said...

artikel yg menarik. syukran. kykny pas tuk dikirim ke eramuslim..
(atau sudah??)