Sunday, March 23, 2008

Emank gimana sich...^^

Sindrom AAC (ayat-ayat cinta) mewabah disegala level usia. Tidak memandang muda-tua (eh maaf, mgkn lebih enakan saya sebut yunior maupun senior), bahkan mungkin anak-anak karena orang disekitarnya menggandrungi sindrom ini. Saya tidak akan mengulas tentang AAC, namun dari AAC ini, seorang kawan meminta saya untuk membuat sebuah tulisan dari perspektif saya tentang sosok fahri dikaitkan dengan sosok “ikhwan”secara lebih spesifik (jgn karena orang bilang saya “akhwat”, justru dalam hal ini saya merasa saya tidak punya kompetensi untuk membuat tulisan seperti apa yang dimintakan teman saya).

Setelah menerima request itu, saya mencoba meminta bahan dari seorang teman “ikhwan”, tapi tidak direspon (maaf, saya mungkin yang ada-ada saja permintaannya). It’s OK. Baru hari ini saya mendapatkan beberapa bahan yang saya anggap relevan dan semoga akan menjawab apa yang dimintakan teman saya itu.

Kisah 1
(Saya ambil dari cerita kawan di MP-nya, maaf blm ijin...gpp kan?), berikut penggalan dr tulisan kawan saya :
Nama sang Doktor adalah DR. Hamid Chebli. Gelar doktornya diperoleh pd th 2002, jadi sekitar umur 26 th. Meskipun dia asli ber-citizen Prancis (lahir di paris, sekolah di paris, kawin di paris, ngomongnya prancis, etc) dan nggak bisa bahasa arab, namun ia sangat teguh memegang hal-hal yg namanya sunnah. Jenggot panjang sekali, celana selalu di atas mata kaki, solat selalu memakai gamis dan nggak pernah bercelana panjang kecuali terpaksa, bahkan solat pun hampir nggak pernah telat berjamaah di masjid meskipun tinggal di paris. Pernah satu kali terlambat, imamnya baru saja salam, dan dia bilang "astaghfirullah" entah berapa kali. Saya, yg sejak kecil hidup di negri Islam, telat (bahkan nelat) solat jamaah di masjid bolak balik lha kok santai2 saja. Benar2 kurang iman saya ini.(ini pernyataan pribadi teman saya yg punya MP, hii…justru yg jujur gini kadang lebih “getol” jamaahnya dari kita2 niy).

Sang doctor ini sudah muak dg kehidupan di paris, terutama akhir2 ini yg sangat offensive terhadap muslim. Masjid di Antony yg saya dan Hamid biasa solat, ditutup paksa oleh polisi Prancis yg selalu menggemakan "Liberte, Egalite, Fraternite" (Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan).

Dulu, sang doctor pernah coba menjadi dosen di Sharjah University. Tetapi, memang dasar orang arab, bukannya diterima baik2baik malah ditolak. DR. Hamid bilang ke pihak dekan, "Pak, saya warga negara Prancis dan punya PhD dari ONERA. Saya ingin menjadi dosen di sini." Si dekan bilang, "Kamu sudah apply online". DR.Hamid bilang, "Sudah". Dekan berkata, "OK, ya sudah. Oh ya apa kamu bisa ETABS, SAFE, SAP200, etc". DR.Hamid pun terdiam. Tentu saja dia nggak bisa. Software2 amerika tsb sangat asing di telinga Hamid yg asli Prancis. Lagian, kerjaan Hamid bukanlah operator software tsb, tetapi lebih menjurus ke FEM (finite element method, BEM (boundary element method), Dynamic Analysis, Vibration analysis, computational mechanics yg didalamanya penuh dengan perhitungan tensor, vektor, stochastic, dan rumus2 njlimet yg lain, etc.Lagian, kalo cuman SAP2000, SAFE, ETABS, anak ITS juga banyak yg bisa. Nggak usah pakai PhD segala. Software2 tsb semacam Microsoft Word yg user-friendly dan siap pakai. Sedangkan kerjaan Hamid adalah membuat sotware2 tsb. Apalagi Prancis itu anti hal2 yg berbau amerika dan pantas saja dia nggak pernah tahu software2 amerika. Saya pernah lihat dia membuat model FEM utk gedung 60 lantai dg Matlab. Rumusnya yg sepanjang 3 papan tulis dibuat sendiri di Matlab. Ngitung tunnel, juga mbuat software sendiri. Ngitung analisa getaran utk rel kereta api (supertrack) juga dimodelkan dg software buatan sendiri. Semua rumusnya mbuat sendiri.


Kisah 2
(saya ambil dari diskus dengan seorang teman yg lagi belajar di negara pemegang nobel perdamaian)
Setelah awalnya bertukar pikiran ttg AAC, beliau tidak tertarik dengan tema AAC namun dari percakapan kita, yang ditekankan “orang Islam jangan "kuper", ngajinya jangan cuma materi tarbawi liqa an saja, banyak2 baca buku, biar wawasannya tambah luas. Saat itu saya disuguhi tokoh yang harus saya search tanyakan ke om google yaitu Maulana Syekh Muhammad Hisham Kabbani al-Haqqani ar-Rabbani q.s. Sosok syekh yang berjenggot sangat panjang, seraya saya berkata ke teman saya, “wah jenggotnya panjang skalie yach..heee”. Beliau menjawab, “Saya nggak pelihara jenggot dan nggak suka ber'isbal ria...”. Kalau prestasi orang Islam atau identitas keislaman hanya diukur dengan jenggot dan "angkat celana tinggi2", itu namanya "mereduksi" nilai2 Islam. Silakan pelihara jenggot dan angkat celana tinggi2 (kalau memang berpandangan itu bagian dari hal yang prinsip dalam Islam), tapi jangan hanya puas dengan itu...Begitu juga, jangan cuma bangga dengan identitas keislaman dengan hijab atau jilbab (lebar dan panjang) saja... KARENA YANG PALING PENTING DARI IDENTITAS KEISLAMAN SESEORANG ITU SEBENARNYA ADALAH ETOS KEILMUAN (YANG TENTU SAJA DIAMALKAN).

So...sosok fahri dikaitkan dengan sosok “ikhwan” itu harus spt apa..??Hhm...dua kawan saya di atas cocok juga disebut Fahri..He2. Saya juga tdk tahu...tanya saja langsung kekaum-nya...Hii, krn saya bukan kaum-nya, kaum saya kaum hawa, bukan kaum adam...meski kita sodaraan...^_^ {saya belum siap digugat kaum adam, krn saya dikira secara sepihak seolah-olah mewakili kaum adam, padahal memang tidak cukup mumpuni dianggap sbg perwakilan kaum adam}

Wallahu’alam bishowab.

Sunday, March 16, 2008

Perjanjian Hudaibiyah

Suatu ketika selagi masih berada di Madinah, Rasulullah SAW bermimpi bahwa beliau bersama para sahabat memasuki Masjidil-Haram, mengambil kunci Ka’bah, melaksanakan thawaf dan umrah, sebagian sahabat ada yang mencukur dan sebagain lain ada yang memendekkan rambutnya Beliau menyampaikan mimpinya kepada para sahabat dan mereka tampak senang, karena menurut perkiraan pada tahun itu pula mereka bisa memasuki Makkah. Tidak lama kemudian beliau menyatakan hendak melakukan umroh. Maka mereka melakukan persiapan untuk mengadakan perjalanan jauh.

Informasi tersebut ternyata begitu cepat terdengar oleh Quraisy dan mereka mengirim pasukan di bawah pimpinan Khalid Bin Al-Walid untuk melakukan berbagai upaya guna menghalang-halangin kaum muslimin memasuki Masjidil-Haram. Sehingga Rasululloh harus mengalihkan jalur perjalanan untuk menghindari bentrokan fisik meski harus mengambil jalur yang sulit dan berat di antara celah-celah gunung melewati Al-Hamsy menuju Tsaniyyatul-Murar sebelum turun ke hudaibiyah.

Upaya Quraisy tersebut belum juga berujung kata menyerah, beberapa utusan pun dikirim untuk melancarkan misinya, seperti Urwah bin Mas’ud Ats-yang akhirnya harus berhadapan dengan keponakannya sendiri Al-Mughirah bin Syu’bah yang tak lain adalah ajudan Rasululloh yang siap membelanya kapan pun. Negosiasi yang dilakukan pihak Quraisy di level pimpinan, ternyata tidak sinergis dengan para pemudanya yang dengan semangat membara terus memancing bara peperangan dengan menyusup ke barisan kaum muslimin. Muhammad bin Maslamah yang bertugas sebagai komandan berhasil menangkap mereka dan setelah diserahkan ke Rasulullah, beliau pun memaafkan mereka karena sejak semula menginginkan suasana damai (Q.S. Al-Fath:24).


Sarana Diplomasi


Sejak peristiwa itu, Rasululloh menegaskan kepada Quraisy sikap dan tujuan beliau dalam perjalanan kali ini, adalah bukan untuk berperang, tapi datang hendak melaksanakan umrah. Awalnya Umar bin Khathab yang didaulat, namun menyadari posisinya di Makkah yang tidak mendapat dukungan dari sanak keluarganya Bani Ka’b, maka dipilihlah Ustamn bin Affan untuk menyampaikan maksud tersebut kepada Quraisy. Perjalanan ke arah negosiasi ini pun sempat menimbulkan isu terbunuhnya Ustman karena cukup lamanya Quraisy menahan Ustman bin Affan di Makkah. Isu ini terdengar juga oleh Rasulullah dan beliau bersabda, “kita tidak akan beranjak sebelum membereskan urusan dengan mereka” dan terjadilan Baiat Ridhwan (karena dilaksanakan di bawah sebuah pohon), dan setelah proses baiat itu selesai, Utsman bin Affan muncul dan ikut berbaiat.

Posisi Quraisy yang demikian terjepit telah disadari dan diutuslah Suhail bin Amr guna mengadakan diplomasi, yang intinya menegaskan kepada Rasululloh untuk pulang ke Madinah. Setelah bertemu Rosul, kedua belah pihak menyepakati klausul-klausul perjanjian sebagai berikut :
1. Rasulullah harus pulang ke Madinah Tahun ini dan tidak boleh memasuki Makkah kecuali tahun depan bersama orang-orang muslim, dan mereka diberi jangka waktu 3 hari berada di Makkah dan hanya boleh membawa senjata yang biasa di bawa musafir, yaitu pedang yang disarungkan dan Quraisy tidak menghalangi dengan cara apa pun.
2. Gencatan senjata kedua belah pihak selama 10 tahun dan sebagian tidak boleh memerangi sebagian yang lain.
3. Barangsiapa yang ingin bergabung dengan pihak Muhammad dan perjanjiannya, maka dia boleh melakukannya begitu juga yang akan bergabung dengan pihak Quraisy, dan kabilah yang bergabung tersebut menjadi bagian dari pihak tersebut, sehingga penyerangan yang ditujukan kepada kabilah tertentu, dianggap sebagai penyerangan terhadap pihak yang bersangkutan dengannya.
4. Siapa pun orang Quraisy yang mendatangi Muhammad tanpa izin walinya, maka dia harus dikembalikan kepada pihak Quraisy, dan siapa pun dari pihak Muhammad yang mendatangi Quraisy tanpa izin walinya, maka dia tidak boleh dikembalikan kepadanya.

Setelah perjanjian selesai ditulis, Rasulullah memerintahkan untuk menyembelih hewan Qurban dan mencukur rambut sebagai tanda umroh, namun hal ini tidak dilaksanakan oleh para sahabat. Akhirnya atas saran Ummu Salamah, beliau melakukannya sendiri dan akhirnya diikuti oleh sahabat yang lain.

Pelajaran dari Klausul-Klausul Perjanjian



Kemenangan yang amat besar bagi kaum muslimin setelah sekian lama tidak diakui oleh Quraisy bahkan hendak diberantas sampai akar-akarnya, di samping orang-orang Quraisy merasa tidak sanggup lagi menghadapi kaum muslimin. Dikukuhkan dalam Firman-Nya Q.S. Al-Fath:1, “sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” Berikut hal-hal yang dapat dipetik dari per-klausulnya:
1. Klausul ketiga menunjukkan pihak Quraisy lupa terhadap kedudukannya sebagai pemegang roda kehidupan dunia dan kepemimpinan agam, mereka lebih memikirkan keselamatan diri mereka sendiri. Artinya kalau pun semua orang baik Arab maupun selain Arab masuk Islam, mereka tidak memedulikannya dan tidak akan ikut campur, hal ini merupakan kegagalan yang telak bagi Quraisy dan kemenangan bagi pihak muslim. Terbukti jumlah kaum muslimin yang tidak lebihd ari 3000 orang sebelum genjatan senjata, semakin bertambah setelah masa dua tahun menjadi sepuluh ribu.
2. Klausul kedua, bahwa perjanjian genjatan senjata yang disepakati berlaku selama sepuluh tahun, tentu akan membatasi kedengkian dan dendam mereka. Lagi-lagi ini adalah kemenangan yang besar karena pihak Quraisy lah yang mengawali peperangan.
3. Klausul pertama merupakan pagar pembatas bagi Quraisy, sehingga mereka tidak bisa menghalangi seseorang memasuki Masjidil-Haram, karena pembatasan yang disepakati hanya selama satu tahun.
4. Klausul keempat, celah ini sebenarnya tidak banyak berarti dan tidak membahayakan kaum muslim. Karena bagi penduduk Makkah yang masuk Islam, kalau pun tidak bisa datang ke Madinah, toh bumi Allah itu amat luas.

Beberapa tokoh Quraisy masuk Islam



Awal tahun 7 H setelah gencatan senjata, beberapa tokoh Quraisy masuk Islam, seperti Amr bin Al-Ash, Khalid bin Al-Walid dan Utsman bin Thalhah.


Wallahu'alam...^^

Tuesday, March 11, 2008

International Woman Day...^^


Meski sempat tertunda...biarlah...^^
Hari ini, tepat tanggal di kalender HP saya menunjuk ke angka 8 Maret. Saat yang bersamaan diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Saya sendiri belum menemukan dan membaca secara langsung sebuah artikel/tulisan tentang sejarah penetapan ini. Perempuan, wanita, ibu adalah sosok yang sangat di dimuliakan, bahkan untuk itu, diperingati juga Hari Ibu, sekarang Hari Perempuan Internasional. Betapa akhirnya dalam benak kita dapat menyimpulkan sendiri secara kasat, bahwa sosok ini begitu memiliki arti agung.

Terlepas dari sosoknya yang mulia nan agung sebagaimana kita semua ketahui, dibalik itu masih menyisakan rentetan catatan buram "keadilan" perlakuaan yang baik terhadap kaum perempuan ini. Adanya perilaku kekerasan baik fisik maupun psikologis terhadap kaum yang rentan terhadap tindakan kesewenang-wenangan ini hampir tidak dapat dihentikan secara serius. Indonesia sendiri masih tinggi tercatat sebagai negara dengan tingkat kekerasan terhadap kaum yang lemah ini. Meski sudah diundangkannya Undang-Undang KDRT, namun sepenuhnya tindakan kekerasan ini belum bisa di hentikan.

Sejenak menengok sudut pemandangan lain di kota Jakarta, sebagai catatan buram. Hari Kamis tanggal 6 Maret 2008, saya membaca salah satu di kolom Harian Umum “kompas” yang judulnya sangat membius saya, “setetes minyak untuk ibunda”-belum baca tulisannya, hati sudah tidak karuan-. Fenomena ini diangkat karena resahnya para ibu-ibu rumah tangga yang harus cerdas dan pandai dalam mengatur keuangan keluarga dengan harga-harga kebutuhan pokok yang semakin meroket, misal minyak goreng curah yang harga normal biasa berkisar 8000 rupiah dan kini harganya mencapai 13.000 – 14.000 rupiah. Ditulisan tersebut, dikisahkan bagaimana sekelompok anak-anak yang kurang mampu setiap hari, sejak harga-harga meroket terus, mereka menadahi derigen-derigen minyak yang sudah kosong dengan harapan sisa-sisa minyak yang ada bisa mereka kumpulkan setetes demi setetes untuk dibawa pulang yang akan dipakai ibunya memasak di rumah. Atau kisah yang paling memilukan, seorang ibu hamil meninggal karena kelaparan??? Oohh...IndonesiaQu sayang...IndonesiaQu malang...memilukannya ini...

Semoga di Hari Perempuan Internasional ini, ada harapan baru terhadap nasib-nasib perempuan ke arah yang lebih baik dan jauh dari perilaku kesewenang-wenangan pihak yang tidak bertanggung jawab...Majulah Perempuan...Harapan itu masih ada ^^

Wednesday, February 27, 2008

Catatan Hati 2 ^^

Tak ada gading tak retak. Begitu pula dalam jalinan persahabatan akan ada datang suatu masa, yang mencoba mengoyak kekokohan talinannya. Kokoh kah? Atau akhirnya akan rapuh yang hanya menyisakan sebuah asa tak bermakna. Hal ini pun tak lepas dari kehidupan saya sebagai bagian dari entitas kehidupan kini, dalam interaksi dengan orang lain. Kemampuan diri-ilmu-, kebesaran jiwa, kelapangan dada, kejujuran hati, keikhlasan menerima adalah keaslian watak yang akan tampak saat ujian itu datang, menjadi kesatria atau pecundang...Berani mengakui sebuah kesalahan yang sejatinya akan sulit kita akui atau mencipta segudang retorika semu untuk menganggap diri satria digdaya yang sebenarnya jiwanya kerdil.

Lantunan nyanyian jiwa itu masih berpihak...mendamba akan datang sebuah harmonisasi hidup ternyata masih memenuhi relung hati ini untuk bisa mempertahankan jalinan persahabatan itu, karena dia adalah harta paling berharga saat ini. Yang akan menjadi pengokoh jiwa, peredam resah, teman dikala kepedulian semakin luntur akibat mewabahnya paham indivualistik ala kemodernitasan gaya hidup saat ini. Ternyata dia masih tersenyum dan membuka tangannya kala diri ini datang dengan segudang gundah gulana dan tangis tak tertahankan. Untuk sahabat yang jauh dan dekat, sahabat yang selalu dihati, mewarnai sisa hari-hari yang tak tentu sampai kapan kemurahan-Nya akan memberikan tenggat waktu yang lebih banyak lagi untuk kita jalani cerita ini, menuntaskan sisa skenario yang belum terlakoni. Lirik dari mu sahabat, untuk sebuah keindahan warna hidup ini.

niji iro no kairo ni Di sebuah jalan berwarna pelangi
musuu no kotoba-tachi kata-kata yang tidak terhitung
hanbun dake demo walaupun hanya sebagian
koko naraba susunde yukeru jika di sini, aku dapat berjalan ke depan

totsuzen no melody melody yang muncul tiba-tiba
mata kasoku site yuku dengan irama yang semakin cepat
kokoro wo tsukanda menembus ke dalam hati
kuhitohira no kage mo kesisaru bayangan hitam dalam hatiku pun menghilang

mana zashi ... kira kira berjalan dengan mata yang berkilap
amari ookikunai michi demo iine aku senang walaupun jalan ini tidak terlalu besar

soshite lalu
kakedasu tobikomu... kiseki e mengejar,melompat ... ke arah keajaiban
miageru te wo furu... hikari e melihat ke atas, melambaikan tangan ... ke arah cahaya
tomaranai kimochi wo tsunaide yuku dengan perasaan senang yang terus berlanjut
reflectia reflectia

yurameku chikazuku... ashita e membungkuk(bergoyang), mendekat ... kepada hari esok
kanaderu yumemiru... mirai e berirama, melihat mimpi ... kepada masa depan
massara na sora doko made mo tsurete bimbinglah aku menuju langit yang bersih
namida no owari aizu ni pertanda akhir dari air mata

muishiki no melody mendengar melody yang tidak bernyawa
kaze ni naru you ni seperti menjadi angin yang berhembus
kioku no sukima ga di sela-sela pikiran
kuisshun wo motome tsuzukeru terus mencari waktu yang hanya sekejap

maboroshi... fuwa fuwa dalam ilusi... yang sangat lembut
fumidaseru nara kitto daijoubu jika dapat melangkah, tentunya tidak apa

soshite lalu
kasaneru unagasu... negai wo menumpuk, berharap... harapan
michibiku oikosu... jikan wo membimbing, melewati... waktu
garasu ni tooseba ukandekuru akan terlihat bila melihat di kaca
rasen no moyou harapan yang berbentuk spiral

kazoeru tabaneru... omoi wo menghitung, menumpuk... harapan
hirogeru irodoru... egao wo memperbesar, mewarnai... senyum
toumei na sora tsutsumareru tabi ni seperti diselimuti langit yang tak berujung
umarekawatte yuku kara aku terlahir kembali

zawameku yokan...sukoshi no kuusou ni perasaan gelisah..dengan sedikit pikiran yang kosong
itsuka uchiaketai himitsu suatu saat ingin membuka rahasia yang terpendam dihati

nagarete egaite... hiraite mengalir, membentuk... membuka
utsushite narashite... mawatte meniru, membunyikan... berputar
chiisa na uso sae kebohongan yang hanya sedikit saja
yubi no saki wo toori sugiru akan terlihat dari ujung jari

hedatete kowashite... hashitte memisahkan, merusak... berlari
kaette mitashite... utatte pulang, memenuhi... bernyanyi
awakute tooi hibi wo sukuidashi menolong hari-hari yang jauh memudar
hansha sitara jika saja dapat terulang kembali

kakedasu tobikomu... kiseki e mengejar, melompat... ke arah keajaibanmiageru te wo furu... hikari e melihat ke atas, melambaikan tangan... ke arah cahaya
ori nasu oobu (orb) de watashi wo yobu memanggil aku dengan orb yang dibuat sendiri
reflectia reflectia

yurameku chikazuku... ashita e bergoyang, mendekat... kepada hari esok
kanaderu yume miru... mirai e mengalunkan, melihat mimpi... kepada masa depan
massara na sora doko made mo tsurete bimbinglah aku menuju langit yang bersih
kagiri naku maiagaru yo sehingga aku dapat terbang...
(lirik reflectia)

Tuk sahabat-sahabat yang belakangan ini sudah menghentak kesadaran saya dengan segala yang menunjuk kesempurnaan kekurangan diri ini, terhadap apa-apa yang tidak saya dapat penuhi haknya laiknya yang harus diberikan dari seorang yang mengaku sahabat, sebuah rasa memahami yang belum sempurna saya berikan. Terimakasih sudah mengingatkan...to be a better.

N.B. Berdasarkan keterangan dari sang penggubah dari Nihongo ke Bahasa Indonesia, sebenarnya sangat suasah mencari padanan yang sama dengan arti di nihongo sendiri...^^)

Tuesday, February 26, 2008

Catatan Hati 1

Lama rasanya jari-jari ini tak lagi meliuk-liuk diatas keyboard dengan sketsa coretan-coretan seputar warna-warni perjalanan hidup ini. Bersyukur tak hingga pun kadang luput dari sikap yang harus ditunjukkan sebagai diri yang lengkap dengan segala kesempurnaan kekurangan ini. Semoga kesadaran itu akan segera hadir membalut diri dalam keindahan rahmat-Nya. Dari sanalah, dari sang hati semua berasal dan bermuara, tentang hakikat nilai-nilai, baik dan buruk.

Kehidupan yang telah dan sedang dijalani ini, laiknya mozaic-mozaic yang menjadi irisan dalam sambungan gugusan kisah kehidupan kita. Besar dari aneka ragam corak warna adalah nuansa tersendiri yang akan terlukis dalam pribadi diri, begitu pun saya. Pertumbuhan, perkembangan fisik, psikologis/jiwa adalah sebuah keniscayaan dari ciri makhluk hidup terkhusus manusia, pun jua saya. Dari hanya sendiri, berdua, “banyakan” mulai berkeluarga, bermasyarakat atau bernegara adalah fase yang menjadi tempat pengekspresian keilmuan, pemahaman, juga kematangan diri. Siap menerima hujan kritik atau masukan dari orang lain.Tak terelakkan, segala egosentris diri (merasa benar sendiri-baik sendiri-atau rupa2 lainnya dengan makna yang sama dengan itu) sudah tidak “laku” lagi ketika harus dipertahankan di kancah wilayah heterogenitas ini. Keasingan, ketidaknyamanan hanya akan menjadi teman dalam duka berkepanjangan yang tidak kunjung ada titik pangkalnya. Kita lah sang pemegang pelatuk semua kendali arah kehidupan kita sendiri, pun juga saya, bukan orang lain.

Semua fase itu tentu akan dapat kita, juga saya lewati dengan banyak cara menurut kebenaran dan kebaikan versi kita masing-masing. Akhirnyalah akan banyak ruang-ruang hati kita penuh dengan arti kebersamaan, kesabaran, keteguhan prinsip, keindahan, kebahagian yang menjadi penyejuk, pembijak diri dalam bersikap (tindak-tanduk).

Di kutip dari buku “Menjadi Wanita Paling Bahagia” dari bagian tentang “Ya”, adalah sebuah renungan akan makna tiap ekspresi diri.
“Hai diri yang angkuh ini, bersegeralah dalam memenuhi panggilan cahaya keindahan itu”.

...Untuk senyum indahmu yang membangkitkan cinta dan memberikan kasih sayang kepada orang lain.


...Untuk kata-kata baikmu yang membangun persahabatan dan menjauhkan rasa dengki.

...Untuk derma yang membahagiakan si miskin, menyenangkan orang fakir, dan mengenyangkan perut yang lapar.

...Untukmu yang mendidik anak-anakmu dengan agama, mengajarkan sunnah Nabi dan memberi petunjuk tentang apa-apa yang bermanfaat bagi mereka.

...Untuk rasa malu dan hijab yang diperintahkan oleh-Nya. Itu adalah cara untuk selalu terjaga.

...Untuk bergaul dengan wanita-wanita baik yang selalu takut pada Tuhan-Nya, mencintai agam, dan menghormati nilai-nilai agamanya.

...Untuk berbuat baik kepada orangtua, menyambung persaudaraan, menghormati tetangga, dan menyantuni anak yatim.

...Untuk bacaan yang baik, dan telaah yang bermanfaat, bersama dengan buku yang baik dan mengandung pelajaran.

“Karena engkau duhai Perempuan, adalah bunga yang semerbak dan burung yang berkicau”

Hari ini kutekadkan diri untuk belajar lagie...^^

Sunday, February 10, 2008

You And Me in Love

Malam ini selepas sholat isya dan saat saya sedang tilawah, tiba-tiba HP saya berdering. Muncul message dari pengirimnya, teman saya semasa di FH UNPAD.
Berikut balas berbalas dalam putaran SMS malam ini :

My friend : “ukhti ku sayang nan salihah kenapa lama nian rasanya tak dgr kbr mu...:), rindu ku pada mu sperti rindu pelangi pada sang hujan..”

Me : “alhamdulillah khoir...berkat do’a anti...smg jg dmikian dgn anti...aLLoh lebih tahu rindu rasa ini utk sbuah ukhuwah krn-Nya...kata pun tak sanggup mrangkainya...InsyAlloh”

My friend :”Syukurlah...lama sekali rasanya tak tdgr kbr mu.., sayang ini yg cemas kan dirimu..tp ckuplah sudah..,kbrmu lapangkan hatiku..(gile.khiril anwar bisa “lewat”nih)

Me :”Pun bgitu jua kbrmu mekarkan klopak mahkota yg trangkum dlm nyanyian rinduku akan hadirnya sosokmu...stamboel rindu ini pun menemukan arahnya...krn-Nya rindu ini hadir...Ha2”

Tak ada yang istimewa sebenarnya dari SMS kami ini, hanya saja beginilah cara kami ungkapan hati ini, yang membuncah sudah dan hanya terwakili dalam tiap kata di puitis yang tak pula mengindahkan pola aturan mainnya...^^

Sunday, February 3, 2008

Smua untuk-Mu...

Kekerdilan ini membungkus diri dalam kelalaian tak berarti
Dalam balutan bisikan makhluk nan jahat yang menghembuskan ke buhul-buhul diri
Semakin jauh melempar ke jurang kehinaan sebagai hamba yang berlumur dosa ini
Tak terhitung sudah noda ini menutup nurani
Tuk sekedar sembunyikan rasa pun tak juga bisa ditepati
Kini takdir begitu jatuh menimpa dan menyiksa kehinaan diri tuk kembalikan hakikat pahami arti seorang hamba-Mu
Robbi


Jika pahit memang harus ditelan untuk kesembuhan diri
Masihkah tangis keputusasaan menjadi pelemah diri
Semua terasa indah tercipta di komposisi yang terangkai dalam tembang sebuah penantian yang di nanti
Tuk menatap Sang kekasih dalam jarak tak ada lagi
Masihkah Kau ulurkan kasih sayang-Mu Robbi?
Tuk bertemu dengan-Mu, menatap indahnya wajah-Mu dalam ikrar janji bakti


Pahit, manis selalu menjadi kembaran tuk warnai cerita yang disaji
Kesedihan, bahagia hanya bagian dari variabel pembantu dalam pencarian arti sebuah makna hakiki
Tuk raih keindahan di suatu waktu yang begitu indah tersaji
Tak lagi ada tangis mewarnai
Tak ada lagi kesedihan menghiasi
Hanya ada sendau gurau dan kebahagian dalam Jannah-Mu bersama kekasih sejati

Jika aku seorang ibu...
Akan kuwasiatkan padamu wahai puteriku...
Tahanlah pandanganmu dalam balutan keluhuran akhlakmu
Pun kau harus abaikan segala kemanisan yang sudah tak mampu lagi kautahan di bentengmu untuk terus kau pertahankan mutiaramu
Sampai di titik yang tidak lagi kau merasa berat memikul bebanmu itu
Hingga kau bisa bersuka cita dengan segala jerih payah upayamu
Ibumu pun disini tersenyum untukmu...

Jika kini ku masih bisa menikmati indahnya sinar mentari di pagi hari
Maka itulah anugerah terbesar untuk bisa kulukis wajah hidupku hari ini
Karena esok dan esok lagi adalah putaran waktu yang tak bisa kupastikan untuk kumiliki
Negosiasi pun tak mampu kutembus dalam level ini
Sebuah ketundukan dan kepatuhan pada Sang pemilik waktu pun terpatri
Dalam janji kesetiaan dan pengagungan asma-Mu
Robbul izzati
Dalam sujud panjang derai tangis pun mengurai
Memelas dalam pengukuhan sgala kelemahan dan kehinaan diri
Tuk limpahkan sgala keberkahan dan keridloan-Mu atas diri ini


Saat itu...sentuhan lembut-Mu
Tuk sekedar sadarkan diri akan kehinaanku
Tuk sekedar menyentak keterlenaan diri akan skenario keindahan dunia-Mu
Yang telah menang telak melemparku di pojok waktu yang tak mungkin kupinta balik dari-Mu
Kau hadirkan semua begitu menyentak di batas titik nadir kelemahanku
Dalam keterpurukanku untuk Kau alihkan aku pada-Mu, pada cinta-Mu
Disaat waktu untuk-Mu telah kusita untuk duniaku, untuk cintaku pada duniaku
Tak lagi kubiarkan yang dulu kembali hadir menyisihkan-Mu dariku
Hingga gugatan-Mu itu menyudutkanku
Memenangkan-Mu di atas kepasrahanku
Bahwa aku MilikMu...
Selamanya milik-Mu
Untuk Kau genggam dalam dekapan Nur-Mu
Hingga mampu kuhadirkan ada-Mu dalam setiap indah sudut pandangku
Bak lembayung senja dalam tatapan indah kekuasaan-Mu
Smua untuk-Mu


Thanx God!

#Maaf Mas Ali, adekmu ini hanya bisa berbagi di sini...
saat tangis diri pecah... saat kutulis semua ini
Dalam kesendirian tanpa pelibur laraku...
Saat ku mengais sebuah kekuatan diri...
Saat yang bersamaan begitu dering Hp ada mas di jarak jauh yang terasa begitu dekat..(
mungkinkah getar rinduku pada belaian kalian semua terasa meski jauh disana...?saat sejatinya aku butuh kalian, hanya dalam rintih lirih hatiku...)
Karena kalian semua adalah hartaku yang terindah dan paling berharga saat ini...
(Alhamdulillah, tidak kena efect banjir mas...!hny ini info yang bisa kubagi...untuk bisa kusembunyikan semua beban ini...Agar senyum kalian semua tetap tersungging untukku...). Atas nama cintaku pada kalian semua.

Jakarta, Ahad pagi mengabur...utk esok yang cerah ^^
(
Ditemani lantunan sahdu Murottal Syeikh Abdur Rahman As-Sudais)