Thursday, January 23, 2014
Menyusur Jalan Yang Tertinggal Zaman
Tepatnya Sabtu 18 Januari 2014, kami sekeluarga hendak kembali ke kampung di Banjarsari-Ciamis. Kami meninggalkan Bekasi menuju tol sekitar Pk.09.30 pagi. Cuaca yang sangat hangat dan enak untuk perjalanan yang lumayan panjang. Perjalanan lancar dan tidak ada kemacetan yang sangat sepanjang di tol sebelum akhirnya kami di simpang dua tol yang berbeda tembusannya, satu masuk tol cipularang dan satu lagi masuk tol cikampek...
Akhirnya saya membujuk suami untuk terus mengarahkan laju kendaraan ke arah tol cikampek. Tol yang sangat lengang, kendaraan yang lewat pun bisa dihitung jari dengan mudah. Serasa berada di luar kota yang jauh dari peradaban kota besar...inilah awal perjalanan menyusur jalan yang tertinggal zaman ini dan kumulai ukir satu-satu dikepalaku...oh ternyata zaman sudah berubah
Perjalanan terus berlanjut sampai akhirnya kami keluar tol cikampek, sampailah di Purwakarta. Beberapa titik yang hampir 10 tahun lalu saya lewati kalau naik bus dari Bandung ke Cikarang, hampir sepi bahkan ada yang hanya tersisa bangunan dan bangku2 yang teronggok ditinggal tuannya...oh, kehidupan itu sudah tidak ada lagi...
Terus saja kami laju kendaraan kami menyusur sepanjang jalan yang dulu jadi andalan ke Jakarta...lagi2 pemandangan yang sama dengan sebelumnya, hanya satu, dua, tiga saja yang mampu bertahan dengan keadaan yang makin sepi itu...masihkah meraka ada sumber penghasilan lain...?oh sedih nian kondisi ini..
Sepanjang jalan saya dan suami mulai bertukar pikiran tentang yang kami lihat, inikah roda ekonomi itu telah berputar, yang dulu di atas sekarang di bawah yang dulu jaya, sekarang diuji dengan sedikit kekurangan...oh, takdir.
Pemandangan tadi kami bawa ke alam perbincangan selama perjalanan. Sebagaimana kondisi kami saat ini yang sedang merintis usaha setelah kami pensiun dini sebagai karyawan, itulah hala-hal yang akan dilalui kelak kala merintis usaha. Waktu terus bergulir tanpa konpromi, dengan keadaannnya masing-masing, jika tiap pergantian kita tidak segera bergerak, beradaptasi....bisa jadi kita akan menjadi sampah-sampah sejarah yang akan ditinggal zaman...oh miris..Ingatkan kami ya Allah.
Sampailah kita di Padalarang...pemandangan yang tersisa sebelum kami tiba di Bandung pun masih sama, tak jauh berubah dengan sepanjang jalan Purwakarta...oh zaman itu telah terganti...inilah akhir dari perjalanan sejarah ini, sunggu banyak pelajaran tentang kehidupan mengisi ruang-ruang kosong di pikiran kami untuk kami jadikan pengingat tentang sebuah sejarah zaman yang telah terganti...semoga kita termasuk orang-orang yang berfikir, Amin
Monday, January 12, 2009
Inspirasi pagi
Satu yang terfikir, begitu terencana-tersistematis den gan begitun luar biasa sebuah blog yang saya baca hari ini. Dua insan blogger menikah dalam sebuah bingkai KaruniaNya. Luar biasa. Sebuah rencana yang terkonsep dengan begitu 'apik', sungguh sebuah upaya yang tidak mudah tapi tidak begitu sulit ketika masing-masing memiliki sebuah kemauan yang sama. Mindset yang sama, sebuah tujuan perjalanan yang sama, dan tentu dengan sebuah konsep hidup yang mencoba untuk disamakan dalam sebuah keragaman yang berbeda. Sangat mudah tentu akhirnya.
Bagitulah tiap orang dengan beragam ekspresi akan mencoba memunculkan apa yang menjadi sebuah kenyaman dari kehidupannya, tak terkecuali dengan para blogger yang mencoba membagi setiap mozaik perjalanan hidupnya untuk bisa dibagi dengan kawan-kawan yang lain. Bukan untuk maksud tertentu yang bertendensi negatif, tentu bermula dengan maksud yang baik akan sampai pada pembaca dengan baik pula. Inshaalloh.
Sekali lagi, mari mencoba menemukan setiap kenyamanan yang akan menjadi pewarna di indah kehidupan kita. Tentu dimulai dengan karakter yang kita suka, tidak perlu musti menjadi si A, si B, tapi tonjolkan apa yang menjadi indah dari kehidupan kita masing-masing (be your self.red).
Sunday, December 21, 2008
Long wiken...
Mulai besok, insyaalloh saya mohon undur diri dari segala macam aktiftas harian dan "jalan-jalan di dunia maya", karena bener-bener mo "jalan-jalan", iya, jalan-jalan di jalan beneran (halah, puyenk kie..!). Jadi bila ada khilaf dan salah baik sengaja atau tidak, mohon di maafkan dan diikhlaskan. Semoga Alloh berkahi perjalanan ini. Amien...
Monggo...^_^
Tuesday, December 16, 2008
Barakallah
Tidak terbayangkan, paginya setelah "ngantor" seperti biasa, wall di 'pesbuk' sudah bersusun nama-nama dengan beragamn do'a dan ucapan yang subhanallah menjadi pagi yang masih terasa'penat' di tubuh menjadi senyum sumringah. Sungguh indah persaudaraan ini. Semua sahabat dekat-jauh, kenal langsung atau tidak langsung, sungguh kalian adalah harta terindahku saat ini. Semoga semua apa yang telah, sedang atau yang akan kita tempuh, kita lalui akan menjadi barakah dan mendapat rahmat dari sisiNya.
akhirnya hanya ucapan terimakasih dari seorang sahabat yang fakir ini kepada semua yang telah memberi goresan 'penuh warna' di kehidupan ini.
Wednesday, December 10, 2008
Sahabat menembus batas...
she: byk hal yg tjadi saat aq menikah, maafin semua kesalahanku ya, doakan ya. doakan ya
me:Masih sms yg sama kau kirim kembali sahabatku...adakah risau dengan smua yg ada dikehidupanmu? Tetaplah tegap kau melangkah...hadapi sgala rintangan dgn ksatria
(lagi lagi.. dia minta do'a)
she: doakan aq ya, andai jakarta itu dkt, aq pasti datang mlepaskan semua gundah krn sahabat terbaikku mampu hapus smua air mataku, doakan aq ya, miss u
(larut sudah...kebalas lagie)
me:Meleintas batas, menembus sekat jarak yang memisahkan...kau sllu hidup, hadir, dekat di hati menyelinap disetiap ruang hidupku..adakah kau msh mrasa sendiri? Bertahanlah
she:makasih ya, doakan aq ya.
Bak karang rasanya saya bisa menyemangati sahabatku, meski bisa jadi aku tidak akan setegar dia kala aku diposisikan seperti dia. Hanya do'a terucap untukmu selalu sahabatku...smg akan ada keajaiban dari langit mendekap mimpi2mu.
Thursday, November 6, 2008
Bukan berpisah, hanya berpindah
Kurun waktu yang tidak sebentar bersama keluarga kecil ini telah memberikan arti tersendiri sebuah keluarga. Keluarga yang sesama anggota saling mengingatkan kala salah, menegur kala sepi menyergap, tempat mencurah segala peluh kesah, tempat berbagi cinta dan cerita...kini saatnya kami harus berpindah, bukan berpisah, mungkin ini kata yang tepat. Meski secara fisik akan ada jarak yang memisahkan.
Tak kubiarkan semua berlalu begitu saja, biarkan cerita lalu menyelinap dalam indah dan hangatnya tahta hati dan fikiran ini. Menjadi memori yang selalu indah di masa-masa yang telah dan akan dilewati. Selamat berjuang untukmu ya Ukhtifillah...menebar kebaikan sebisa kita mampu.
Jakarta, 7 Nov'08
N.B.Hutang saya album keluarganya masih belum selesai
Tuesday, October 7, 2008
Sebuah Do'a...
Ya ALLAH…..
Aku berdo’a untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku
Seseorang yang sungguh mencintai-Mu lebih dari segala sesuatu
Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau
Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk-Mu
Wajah tampan dan daya tarik fisik tidaklah penting
Yang penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau dan berusaha menjadikan sifat-sifat-Mu ada pada dirinya
Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup sehingga hidupnya tidaklah sia-sia
Seseorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas
Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku
Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasihatiku ketika aku berbuat salah
Seseorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tapi karena hatiku
Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi
Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku di sisinya
Tuhanku…
Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna,
sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mata-Mu
Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya
Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna
Tuhanku…….
Aku juga meminta,
Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga
Berikan aku hati yang sungguh mencintai-Mu, sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaku
Berikanlah sifat yang lembut sehingga kecantikanku datang dari-Mu
Berikanlah aku tangan sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya
Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dan bukan hal buruk dalam dirinya
Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana,
mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat dan tersenyum untuk dirinya setiap pagi
Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan:
“Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna.”
Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat
Dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang telah Engkau tentukan
Amin….
(Kado dari seorang teman yang dikirim melalui Email...)
Friday, September 26, 2008
Mudik...
Tawaran hiruk pikuk edisi "mudik" yang sungguh "melelahkan", melelahkan karena daya dukung sarana transportasi yang disediakan baik oleh pemerintah sebagai penyedia jasa transportasi publik maupun swasta tetap saja dirasa kurang memadai dengan jumlah populasi warga negara Indonesia yang semakin "meledak" saja ini. Sebagai efek sampingnya tentu kepada kenyamanan untuk bisa "mudik".
Akhirnya, apa pun yang menghiasi warna-warni dinamika "mudik" tetap saja menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat kita sampai saat ini yang masih begitu sulit untuk tidak "dilakoni", artinya orang kampung yang mengais rezeki di kota akan sejenak meleburkan diri dalam nuansa fitri kampung yang terasa "sahdu" dan sayang untuk dilewatkan. Atau sekedar alasan kekerabatan yang pernah suatu ketika terlontarkan dari ibu saya ketika saya telat pulang kampung, "seperti tidak punya keluarga saja, tidak pulang" he he...padahal hanya karena telat (mungkin ini saya anggap sebagai sinyal sebuah pengharapan ortu yang sangat menanti kehadiran putra-putrinya untuk bisa berkumpul di momentum lebaran Syawal, hi hi).
Apapun itu, yang akan melakukan mudik semoga selamat sampai tujuan dan kembali lagi ke tempat aktifitas dengan selamat. Sampai ketemu semua di dunia maya ini di hari yang sudah ditetapkan kantor, he he. Inshaalloh besok akan meninggalkan sejenak hiruk pikuk megapolis Jakarta untuk kembali ke kampung, semoga perjalanan besok lebih baik dan aman. Akhir kata, Taqabbalahu Minna Wa Minkum...Maafkan lahir dan bathin atas sgala khilaf diri, semoga kita bisa kembali fitri..amien, ^^
Friday, August 22, 2008
Kelahiran Rumah Kedua...
Sekarang 1 lagi wahana di cyber space yang bisa di pelajari (itung-itung sebagai hal baru...), facebook alias "pesbuk". Pesbuk ini sebenarnya memiliki fungsi yang ekuivalen dengan friendster alias fs (itung-itung juga saya tidak punya fs sich) dengan daya tarik yang sedikit lebih saja.
Anyway, semoga dengan wahana baru ini (koq kayak mainan di dufan, pake istilah wahana segala) bisa bermanfaat. It's OK, kelahiran rumah saya kedua di cyber space ini (pesbuk) berkat bantuan perawat yang juga telah membantu kelahiran rumah saya pertama (blog). 2 rumah cukup (kayak slogan "KB" he he).
Thanx To Mas Amrie (Biaya persalinannya masih hutang yach? belum gajian niy...) ^_^
Wednesday, July 23, 2008
Kisah Dari Buah Tangan Seorang Asma Nadia
Inilah karya "dahsyat" sang penulisnya, Asma Nadia:
CINTA LAKI-LAKI BIASA > Karya Asma Nadia dari kumpulan cerpen Cinta Laki-laki Biasa.
MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan
> alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru
> setelah menengok ke belakang,
> hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar,
> keheranan yang terjadi bukan semata miliknya,
> melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama,
> kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka
> ternyata sama herannya.
>
> "Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan
> surat undangan.
>
> Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin
> menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu.
> Suasana sore di kampus sepi.
> Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
>
> Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya
> berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya
> sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan
> di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka.
> Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari
> sana . Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan?
> menyadari, dia tak punya kata-kata!
>
> Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak
> jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia
> menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di
> kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara
> mendadak gagap.
> Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania
> menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan
> keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena
> semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab
> kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta
> buntut mereka.
>
> "Kamu pasti bercanda!"
> Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di
> wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak
> nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama
> membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika
> mengira Nania bercanda.
>
> Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan
> keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan
> gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
> "Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak,
> apa
> lucunya jika Rafli memang melamarnya.
>
> "Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas,
> "Papa hanya
> tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang
> paling cantik!"
>
> Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa
> barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak
> sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang
> mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh
> seleidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang
> duduk layaknya pesakitan.
>
> "Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan ?" Mama
> mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan
> nada penuh wibawa, "maksud Mama siapa
> saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya
> tidak harus iya, toh?"
>
> Nania terkesima.
> "Kenapa?"
>
> Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
> Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai
> dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga
> juara debat bahasa Inggris, juara baca
> puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
> Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih
> gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa.
> Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki
> manapun yang kamu mau!
>
> Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia
> kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub
> dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata
> 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.
>
> "Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan
> airmata
> mengambang di kelopak.
> Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak
> suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli.
> Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
>
> "Tapi kenapa?"
> Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa,
> dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan
> pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa.
>
> Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka
> matanya. "Tak ada yang bisa dilihat pada dia,
> Nania!"
>
> Cukup! Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya
> ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan
> seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana
> tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan
> seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
>
> Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan
> membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak
> tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak
> punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli
> tampak 'luar biasa'.
> Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang
> telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur
> duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli.
> Di sampingnya Nania bahagia.
>
> Mereka akhirnya menikah.
>
> ***
>
> Setahun pernikahan.
>
> Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih
> sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa
> sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya,
> Nania masih belum mampu juga menjelaskan
> kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
>
> Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli,
> begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari
> sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara
> dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat
> perempuan itu sangat bahagia.
> "Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta
> Rafli pada Nania."
>
> Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
> Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata
> mereka terlihat tak percaya.
> "Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis
> secantikmu!"
> "Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga
> pintar!"
> "Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya
> kehidupan sukses!"
>
> Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes.
> Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak
> boleh meremehkan Rafli.
> Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu
> argumen.
>
> Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
> Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan ?
> Rafli juga pintar!
> Tidak sepintarmu, Nania.
> Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
> Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
>
> Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan
> kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung
> mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
> "Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses,
> mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk
> menghidupimu. "
>
> Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua.
> Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi
> punya anak.
> Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak
> juga berhenti.
> Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak,
> satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan.
> Rafli bekerja lebih rajin setelah
> mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu
> sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.
>
> "Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania
> memintanya
> untuk tidak terlalu memforsir diri.
> "Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan
> dengan gaji Abang."
>
> Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi
> dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa
> besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.
> "Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga.
> Ya?"
>
> Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan
> lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik
> menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
>
> Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
>
> Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari
> keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan
> biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang
> amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.
> Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak
> penting.
>
> Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di
> kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah,
> rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan
> Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan
> itu berada di puncak!
>
> Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli
> melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di
> kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik
> saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
>
> Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
> Cantik ya? dan kaya!
> Tak imbang!
>
> Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang
> pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek
> tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan
> bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
>
> Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum
> bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania
> mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu
> itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau
> membuat Nania menangis.
>
> ***
>
> Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah
> lewat dua minggu dari waktunya.
> "Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua,
> Nania. Harus segera dikeluarkan! "
>
> Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan
> sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan
> menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan
> itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya
> normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera
> melihat si kecil.
>
> Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di
> rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu
> meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan
> menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara
> kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang
> datang.
>
> Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan
> jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan
> tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan
> melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu
> tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.
>
> "Baru pembukaan satu."
> "Belum ada perubahan, Bu."
> "Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster
> empat
> jam kemudian menyemaikan harapan.
>
> "Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."
> Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster
> terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang
> tinggi.
>
> Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua.
> Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah,
> mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu
> kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah.
> Perkiraan mereka meleset.
>
> "Masih pembukaan dua, Pak!"
> Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur
> karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi
> ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin
> payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
>
> "Bang?"
> Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri
> memperjuangkan dua kehidupan.
>
> "Dokter?"
> "Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali
> pusar."
>
> Mungkin?
> Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi
> kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?
> Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir
> kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan
> genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi.
> Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.
>
> Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba
> putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia
> tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu.
> Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam
> perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun.
> Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan
> itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya,
> dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum
> kemudian dia tak sadarkan
> diri.
>
> Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa
> menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan
> zikir.
>
> Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania
> mendekat.
> "Pendarahan hebat."
> Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap,
> berwarna merah.
> Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan
> entah bagaimana pecah!
>
> Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
> Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu
> lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak,
> sambil menenangkan orangtua mereka.
>
> Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda.
> Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas
> yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya
> dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat
> seperti kanker.
> Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
>
> ***
>
> Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli
> bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus
> membagi perhatian bagi Nania dan juga
> anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si
> kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat
> kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai
> empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.
>
> Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut
> menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke
> rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak
> banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga
> Nania dengan Rafli.
>
> Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah
> meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat
> anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat
> Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh,
> dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
>
> Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam.
> Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat
> telinga Nania yang terbaring di ruang ICU.
> Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan
> menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan
> penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan
> bercanda mesra.
>
> Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa
> merasakan kehadirannya.
> "Nania, bangun, Cinta?"
> Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil
> mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.
>
> Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai
> pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih
> berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji
> dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra.
> Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania
> ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan.
> Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil
> tak bosan-bosannya berbisik,
> "Nania, bangun, Cinta?"
>
> Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan
> permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi
> soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya
> di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang
> menjadi sumber semangat bagi orang-orang di
> sekitarnya, bagi Rafli.
>
> Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak
> merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan
> yang lain, tidak wajahnya yang lama
> tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat
> sering lupa makan.
>
> Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias
> perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening,
> serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya
> yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
>
> Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania
> sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama
> ditangkap matanya.
>
> Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam
> tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya,
> mengucapkan syukur berulang-ulang dengan
> airmata yang meleleh.
> Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
>
> Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus
> kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah
> merawat Nania selama sebelas tahun terakhir.
> Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar
> anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore
> setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju
> rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja
> datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan
> tahun yang sedang jatuh cinta.
>
> Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik
> sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan
> cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin
> Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania
> mengatakan itu tak perlu.
> Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
>
> Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak
> kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya
> pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling
> cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata
> Rafli.
>
> Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga
> jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu
> menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran,
> nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut.
> Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang
> sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.
>
> Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan
> pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang
> menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli
> yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana
> kemari. Masih dengan senyum
> hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
>
> Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang
> yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga,
> sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi
> pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh,
> semua berbisik-bisik.
>
> "Baik banget suaminya!"
> "Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"
> "Nania beruntung!"
> "Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa
> adanya."
> "Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat
> bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun
> tak pernah bermuka masam!"
>
> Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga
> orang, Papa dan Mama.Bisik-bisik yang serupa dengungan
> dan sempat membuat Nania makin
> frustrasi, merasa tak berani, merasa?
>
> Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu
> kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap
> berbisik-bisik, barangkali selamanya akan
> selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu
> kini berbeda bunyi?
>
> Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain
> basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut
> tergelak melihat kocak permainan.
>
> Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania
> menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak
> dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan
> yang lebih
> dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak
> berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama
> karena usia, meski karir telah direbut takdir dari
> tangannya.
>
> Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa
> dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk
> Nania.
>
> January 16, 2007 |
Dikutip, sesuai aslinya dari Email yang saya terima. ^_^
Friday, July 18, 2008
Seri Perempuan I
Pandangan Subjektif
Tidak mudah tentu menjalani banyak peran yang ada, namun bukan juga sesuatu yang tidak mustahil dapat di lakoni peran ganda dari seorang perempuan. Tidak mengedepankan keuntungan bagi diri sendiri, akan banyak lakon yang dijalaninya untuk lebih bermanfaat terhadap orang lain, orang-orang sekitar yang dicintainya. Bukan nilai pengorbanan yang selalu dihitung dari besarannya, tapi dari secercah harap kebahagian yang akan menyungging di senyum orang-orang yang dicintainya.
Tidak terlalu berlebih untuk nilai penghargaan atas sejuta pengorbananya, dalam keadaaan lapang atau sempitnya, dalam keadaan kepayahan atau kemampuan yang ada. Sungguh terlalu mulai engkau duhai perempuan.
Perempuan Sekolah
Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, penghidupan yang layak. Sebuah hak mutlak yang lahir dari sebuah keasasian pengakuan persamaan derajat sebagai sesama makhluk Tuhan, tidak ada beda dalam pandangan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Perempuan adalah madrasah/tempat belajar dari sebuah kehidupan baru, seorang anak/generasi penerusnya. Perempuan memiliki peran yang begitu mulia, sebuah peran yang tak mampu dinegasikan dengan disubstitusi oleh keberadaan seorang lelaki sehebat apapun. Sebuah kerjasama yang harus dijalin antara keduanya dengan cukup baik tentu.
Perempuan dengan kemampuannya mampu mengenyam pendidikan setinggi ia mampu. Kelak dengan pengetahuaanya ia mampu memajukan diri, keluarga, masyarakat dan negaranya. Perempuan yang dengan cita-cita besar saja mampu memberikan sesuatu yang besar pula. Mau ikut dalam kemajuan? Atau cukup puas dengan apa yang ada kini?
Perempuan bekerja
Tanggungjawab mencari nafkah/bekerja bukanlah kewajiban perempuan dalam kodratinya, tapi tugas mulai kali ini menjadi “Kavling Mutlak” seorang lelaki. Perempuan sebagi partners lelaki harus mampu menempatkan peran ini dengan baik, tanpa harus terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaannya.
Pelaksanaan peran ini pun bukan sesuatu yang menjadi larangan untuk dilakukan atau pelanggaran jika dipilih. Hanya dibutuhkan sedikit atau mungkin dituntut kecerdasan lebih darinya sehingga peran-perannya yang lain tidak terabaikan atau tergeser karenanya. Tidak mudah memang terlihatnya (belum terbukti statement ini oleh saya pribadi), imposible is nothing, isn’t it? If there is will, there is a way.
Perempuan Politisi
Emansipasi atas keberadaan kaum perempuan telah terbuka lebar. Kesempatan berkiprah di kancah ruang-ruang publik semakin luas. Bahkan, sebuah partai politik disyaratkan memiliki pengurus yang anggotanya 30% adalah perempuan.
Nah, bagaimana perempuan? Sudah siapkah? Kembalilah semua ini ke masing-masing dri perempuan. Kalau pun menjadi politisi, tentu sudah dengan berbagai pertimbangan. Yang penting adalah sebuah nilai faedah/kegunaan untuk seluas-luasnya, tak tertinggal adalah menimbulkan manfaat terhadap diri sang perempuan itu sendiri dalam memacu terus peningkatan keilmuaanya guna menyokong tugas yang diemban. Dengan begitu, maka tidak ada sebuah peran yang dilakoninya tanpa sebuah kesiapan yang matang darinya. Selamat berjuang perempuan.
Perempuan sebagai Isteri/Ibu dari Anak-Anak
Dari banyak peran di atas peran kali ini adalah sebuah peran yang lahir dari fitrah sejati seorang perempuan yang lahir dari kalangan manapun, tidak pandang latar belakang suku/pendidikan. Tidak perlu malu-malu, kita perempuan untuk mengekspos tugas kita ini. Tak terkecuali bagi kita yang masih single, dimana peran ini belum sempurna kita lakukan (mungkin kelak, jika saatnya tiba, selamat kepadamu wahai perempuan, kau akan menjalani tugas dengan predikat baru sebagai seorang Isteri dan Ibu dari calon anak-anakmu kelak).
Mulai dari impian memiliki pasangan sampai sederet kriteria idaman pasangan adalah hal wajar dari seorang perempuan dalam menjatuhkan pilihannya, begitu juga sang lelaki. Tak ada yang salah dari sebuah tahapan awal ini, hanya saja yang patut di luruskan dalam aksi filosofi fikiran kita adalah sebuah keinginan untuk menjadi masing-masing individu sebagaimana kriteria yang telah kita tentukan. Tidak adil rasannya sebuah tuntutan dilakukan ke salah satu pihak saja, tanpa dibarengi dengan keinginan menjadi idial sebagaimana diinginkan pihak lain. Begitulah akhirnya reaksi reversible/bolak-balik harus dijalani. Sehingga tidak perlu harus ada sebuah pembuktian rumus, “penyesalan selalu diakhir” (karena ia sudah menjadi sebuah kebenaran alamiah), karena penyesalan atas kesalahan dalam menjatuhkan palu pilihannya.
Banyaknya syarat yang ditentukan sebelum sebuah pilihan dijatuhkan harus dibarengi dengan pemahaman di alam sadar kita untuk juga menjadi sesuai apa yang telah kita syaratkan. Sehingga pernikahan adalah gerbang sakralisasi ikatan dua insan yang bertujuan secara bersama-sama membangun sebuah generasi yang lebih baik dari mereka kelak. Dengan landasan berpijak yang senantiasa terarah, bukan hanya dalam sebuah lampiasan nafsu biologis atau tataran sosial semata, jauh lebih besar dari hanya bagian kecil itu, yaitu tercapainya rumah tangga yang sakinah mawadah wa rahmah dalam bingkai keAgunganNya.
Sekali lagi, tidak ada yang salah dalam setiap tindakan dan pilihan, karena tanggung jawabnya ada dipundak sang penentu palu. Yang harus disiapkan dari awal adalah sebuah ketersedian amunisi keilmuan yang cukup sebagai cadangan energi dalam mengayuh sebuah bahtera yang baru saja dilayarkan. Semoga dengan adanya hujan badai di perjalanan, bukan lantas roboh tenggelam karenanya, namun ia akan mampu menghadapi dan mengatasi terjangan badai dengan simpanan energi yang dipunyainya.
Hanya orang yang memiliki niat besar saja mau melakukan sebuah pilihan. Resiko kecil atau besar hanya sebuah ukuran yang kadarnya sangat relatif yang tidak dapat dipatok dengan angka matematis tertentu.
Di kisahnya oleh Tiro (sekretaris kepercayaan negarawan Romawi, Cicero) dalam perannya di “IMPERIUM” dalam petikan Stenografinya antara lain sebagai berikut:
Ø Kadang-kadang, jika kita menemui jalan buntu dalam politik (tafsirkan dalam arti lebih luas juga), yang harus dilakukan adalah memulai pertempuran-memulai pertempuran, sekalipun kita tak tahu cara memenanginya, karena hanya saat pertempuran berlangsung, dan segalanya bergerak, kita bisa berharap dapat melihat jalan keluar.
Ø Jika kita harus melakukan sesuatu yang tidak populer, sebaiknya sekalian saja dilakukan dengan segenap hati, karena dalam politik (tafsirkan dalam konteks sisi kehidupan yang lebih luas), pujian tidak didapatkan dengan takut-takut.
Ø Dan bukan kejeniusan yang mengantarkan manusia ke puncak. Roma penuh dengan orang jenius yang tak dikenal. Hanya ketekunan yang memungkinkan kita maju di dunia ini.
Tuesday, July 15, 2008
Entahlah...
Saya pribadi berpandangan bahwa setiap apa yang bisa dikonsumsi oleh publik/umum baik akhirnya melalui sebuah postingan/bentuk lain, maka saya yang berpandangan bahwa si penulis/si empunya tulisan tersebut sudah berfikir akan hal apa, akibat dari apa yang ditulisnya, mengenai bernilai positif atau negatif maka biarkanlah khalayak umum yaitu pembacanya yang akan menilai. Tentu dengan sepenuh kesadaran sang penulis bahwa apa yang "bakalan" ditulis tersebut adalah sesuatu yang mungkin bisa dibagi dengan diceritakan ulang melalui sebuah tulisan. Bagaimana juga akhirnya tulisan ini akan menjadi tools sebagai salah satu kontrol sejauh mana "kebebasan" berekpresi (toh sejatinya tidak ada sebuah kebebasan yang mutlak, karena ia dibatasi oleh norma-norma sodial atau hukum dalam suatu masyarakat tertentu).
Bukan juga bermaksud menyimpulkan terhadap suatu peristiwa/kejadian yang ada ini, mungkin lebih tepatnya bagaimana kita melihat sebuah dinamika yang ada di sekitar kita dalam kacamata multidispliner yang lebih luas, tentu harus pula disertai tanggung jawab baik individu maupun secara bersama.
Memulai sesuatu dengan kesalahan jauh lebih baik dari pada tidak pernah mau memulai bukan? Asal dengan kesalahan tersebut kita mau belajar.
Wallahu'alam
Sunday, June 22, 2008
Bginilah kami...^_^
"Ya Alloh, sebagaimana Engkau baguskan penciptaanku, maka baguskanlah akhlaku"
Do'a yang hampir2 saya lupakan manakala kutatap dalam2 wajah ini di cermin. Rasanya tak akan pernah cukup segala usaha untuk mengumpulkan sebanyak ibadah untuk membandingi begitu banyak nikmat yang diterima. "maka nikmatKu yang manakah yang kamu dustakan?"
Suasana kantor yang awalnya"hening" tiba2 dikejutkan dengan sebuah suara koor, "geeerrr". Ada seorang kawan kami menyebut-nyebut soal 3 perempuan "nDut" di kantor ini. Maklum bagi perempuan istilah "nDut" begitu sangat menyedot perhatian, khususnya yg berbadan sedikit "SuBur"- saya bilang sedikit subur guna menghaluskan sebuah kata yg begitu menjadi momok untuk perempuan yang dikarunia badan "nDut"-.
Tidak ada yang lebih juga sebenarnya dari "guyonan" ini, hanya saja terkadang perempuan kalangan mana saja, masalah ini masih tetap menjadi perhatian khusus, bagaimana tetap merawat fisiknya, tentu dengan segudang alasan masing-masing. Saya sendiri sempat dibuat "kalang kabut" karenanya. Kegagalan ukuran dalam membeli baju, membuat saya ekstra keras menurunkan sedikit "kesuburan badan" saya, hanya demi baju biar tidak terbeli percuma, astaghfirullah ^_^.
Tapi, itulah sisi perempuan. Terkadang saya mulai berfikir, ada baiknya program diet selalu mengarah kepada pola komsumi yang menyehatkan, bukan malah "menyiksa" diri. Example : anda hanya makan nasi sekali sehari (jk kebutuhan kalori anda besar, jgn dipaksa), yg penting adalah porsi cukup, tidak berlebihan. Karena biasanya faktor "nafsu' ini yang sulit dikendalikan. Atau yang suka "ngemil", kebiasaan yang susah dikendalikan juga, di rumah, di kost, jangan disediakan camilan yang turut berperan "menyuburkan badan", kecuali camilan yang menyehatkan, seperti buah.
(curhat colongan jadinya).
So, to be better...day to day ^_^
Thursday, June 19, 2008
Kabarkanlah...^_^
Hitungan ukur pun tak mampu kupakai untuk mewakili betapa nikmat itu tak terhingga, saat ego diri menyerobot KesombongaNya - karena hanya DIA yang layak memakai baju kesombongan itu- hanya sebentuk kepasrahan diri, akan sempurnanya kekurangan ini, sungguh aku mohon perlindungan dari keburukan perbuatanku.
Maka tentang kebaikan TuhanMu, kabarkanlah. Sampai waktu ini, detik ini aku sangat senang sekali bisa mendapati kesempatan disini, mengabarkan kebaikan Tuhan ^_^
(inspirasi pagi yang selalu bergelayut manja di benak ini)
Wednesday, June 18, 2008
Engkau lebih tahu
Hening, senyap mulai menghiasai diri. Kemana diri kan berlari? Jika hanya hampa yang menguasai diri? Rasanya mau nangis sejadi-jadinya betapa semua datang menghimpit kebebasan diri. Lapangkanlah hati dan langkahku Rabb ^_^
Sunday, June 15, 2008
Kenangan bersamamu...^_^
Hanya segudang airmata yang hadir
tuk segudang rasa rindu yang membuncah
tuk seluas samudera kasihmu yang kudamba
seperti dulu...
Mengenangmu...
Hanya sedih yang hadir
tuk bakti yang belum bisa kuberikan sepenuhnya
di saat sisa usia yang DIA berikan untukmu
akankah tanpamu kini bisa kujalani ini?
Bersamamu...
sejuta kenangan manis telah tercipta
satu persatu hadir dalam bayangan kini
lagi-lagi hanya tangis yang ada
tuk asa yang tak lagi mampu kugapai saat masih bersamamu
Akankah kini...
jiwamu hadir kembali menguatkan ku seperti dulu
saat dukunganmu begitu hangat membelai ingatanku
lagi-lagi aku hanya mampu berurai airmata kerinduan
akanmu...
sosokmu yang hangat
pun yang tak pernah mengeluh atau menunda memenuhi segudang pinta yang kuajukan
kerut di wajahmu dan lelahmu pun tak kau tampakkan untuk alasan itu
kini...
aku rindu hadirmu
Akhirnya...
untuk sebuah asa yang belum sempat kutunaikan
akan kutempa diri untukmu
akan ku coba diri menjadi kebanggaanmu
meski harus jatuh-bangun karena kesempurnaan kekuranganku
untuk sebuah senyummu di sana
ayah...
aku rindu...
semua kenangan bersamamu..
@ ayah terimakasih, nanda haturkan kepadamu yang telah mendidik, membesarkanku bersama ibu...
Thursday, June 12, 2008
Sabar itu...
Sabar itu sendiri adalah sebuah kata penempatan yang mulia dengan tidak ada batasnya. Akan salah apabila orang mengatakan, "sabar ku ada batasnya niy". Mengingat tawaran pahala atas kesabaran itu memang tidak ada batasnya juga. Menyabarkan diri dalam suasana yang memungkinkan sebuah perdebatan/perlawanan berkepanjangan hanya akan membuang energi dan bukan malah "membuat tinggi kedudukan" seseorang. Memang sangat di perlukan sebuah perjuangan mencapai level sabar ini, menahan emosional, egoisme pribadi yang meraja diri untuk sekedar meredam gejolak yang bisa jadi bergejolak. So...berjuanglah diri ^_^
Thursday, May 29, 2008
Seberapa dekat
Seberapa dekatkah
Hitungan jarak yang ada
Hitungan waktu tempuh yang slama ini terjalani
Hitungan beban yang slama ini ada di pundak kita
Hitungan alasan untuk sebuah janji yang sempat kau tawarkan
Hitungan masa usia yang tidak tahu sampai kapan masih ditangguhkan oleh pemiliknya untuk di ambil kembali
Hitungan cc udara yang masih dapat dinikmati cuma-cuma karena kasihNya
Akhirnya seberapa dekatkah kita untuk menundukkan hati terucap syukur untukNya?
Seberapa dekatkah
Masa yang tertempuh dalam rentang waktu yang entah sampai kapan diberi
Yang telah tercurah untuk sesama
Yang telah terpakai nafas ini untuk senantiasa basah dengan tafakur padaNya
Seberapa dekatkah
Teman yang sempat mampir lalu terlempar sungging senyumnya untuk uluran silaturahmi ini
Keangkuhan diri untuk melawan segala bisikan yang menyesatkan
Pun segala ketidak berdayaan diri dari tiupan kemaksiatan yang tidak sadar kita tempuh jalurnya
Akhirnya seberapa dekatkah kita mau menghitung semua kalkulasi untuk bekalan nanti?
Seberapa dekatkah
Aku mampu membelokkan arah yang telah terbelok
Aku yang tersesat dalam kefanaan syurgawi yang menipu
Aku yang hampa tanpaMu telah membunuhku dalam sebuah kesendirian yang lemah
Pun ku tertunduk memelas belas kasihMu, dalam samudera kelapangan hati dalam permohonan munajat yang kupinta
Aku terlena dengan segala kelemahanku untuk bisa kuhaturkan hanya padaMu dalam rengkuhan KeperkasaanMu
Dalam segala rupa yang kupinta
Untukku Kau berikan sgala rasa laksana adn yang dirindu...Amien
Menteng, Jak-Pus
Jum’at 30/05/2008 Pk.00.43 wibb
Wednesday, May 28, 2008
Trimakasih Hadiahnya ^_^
Mentari yang slalu menerangi bumi tanpa ingkar
Untuk slalu datang di pagi cerah dan kembali ke peraduannya kala senja menjelang
Trimaksih hadiahnya ^_^
Stamboel Rinduku
Rinduku yang kian menggelegakPada kenangan lama yang mencetak biru diriku
Pada rasa yang terbenam indah dalam kesan
Pada perjalanan hidup yang mengharu biru
Pada segala suasana yang menenangkan jiwa
Pada sejuk temaram belaian sayang dan harapan
Pada lembutnya kasih yang merona sanubariku
ALLAH….
Dahulu Kau titipkan diriku padanya
Kini ku titipkan mereka pada Mu
Meski rasa tak pantas ku meminta pada Mu
Hanya kebajikan yang pernah kulakukan sebagai garansi titip pada Mu
Segala daya kebaikan yang pernah kulakukan
Adalah bekas-bekas sentuhan yang mereka tanamkan padaku
Kumohon dan kuharap dengan segala kerendahan diriku
Jadikanlah itu penambah kebajikannya agar Kau sayangi mereka
Dititik kehidupan ini
Rinduku yang terpendam dalam pada kedua ayah ibuku
Memuncak dan membuncah menjadi sebuah asa
Kumpulkan kami semua dalam syurga Mu….
Ayah…Ibu
Aku rindu padamu
Rindu pada kasih sayangmu yang tak pernah hilang
Rindu pada lembutnya sentuhanmu padaku
Rindu pada jiwa dimana diriku dapat bersandar walau sejenak
Rindu pada lapangnya jiwamu mendengar keluh kesahku
Rindu pada tetes airmata bahagiamu
Rindu pada kesabaranmu menjalani hidup
Rindu pada kesederhanaanmu
Rindu pada ibadahmu yang tiada henti
Rindu pada kejujuranmu pada hidup & kehidupan
Rindu pada masakanmu
Rindu pada ocehan dan omelan sayangmu
Rindu pada tidur-tidur malam gelisahku
Rindu pada perhatianmu yang tulus tak berujung
Rindu pada semangat hidupmu
Rindu pada caramu melihat kehidupan
Rindu pada segala apa yang ada didalam dirimu
Aku rindu……………
(by ariewb)
Wednesday, May 21, 2008
Rinduu...^_^
( Senandung tercipta) :
Ibarat lama tidak berkunjung...
Rasa rindu yang membuncah datang lagi
Tuk sejenak melepas penatnya di belantara ini
Menoreh apa yang terlukis dalam kanvas lembar-lembar kisah hidup
Suka...duka...slalu datang silih berganti
Harapan itu masih ada...^_^
Yach, harapan untuk kembali mewarnai rumahku yg sederhana ini
dengan ramainya celoteh dari "keslengekan"diri yang tak kunjung terhenti
mencoba mencari kesejatian diri berbalut kesahajaan dan kerendahan hati dalam rengkuhan keagunganMu Robbi...
Mudahkan langkah ini...^_^
